••• “Telah Dibuka Pendaftaran Taruna Akademi Militer (AKMIL), Untuk Lulusan SMA Jurusan IPA Dari Tanggal 6 Pebruari 2012 Sampai Dengan 31 Maret 2012, Untuk Informasi Selengkapnya dapat diperoleh di Ajendam VI/Mlw Balikpapan, Ajenrem 091/Asn Samarinda dan Ajenrem 101/Ant Banjarmasin" •••
 

Kodam Mulawarman on Facebook

Kodam Mulawarman on Twitter

Analisis Kepemimpinan TNI Menghadapi Tantangan Tugas Masa Depan
Senin, 06 Oktober 2008

Mayjen TNI Tono SuratmanOleh: Mayor Jenderal TNI Tono Suratman
(
Panglima Komando Daerah Militer VI/Tanjungpura)
Tinjauan Kepemimpinan

Arus globalisasi yang membawa nilai demokrasi dan hak asasi manusia telah melanda seluruh negara di dunia. Setiap negara berlomba untuk menciptakan sistem politik yang demokratis dan menerapkan nilai hak asasi manusia dalam praktek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, globalisasi juga telah melahirkan perubahan hakekat ancaman yang semakin komplek, tidak hanya ancaman konvensional/tradisional/militer semata, melainkan juga ancaman non konvensional/non tradisional/non militer. Di era globalisasi saat ini, setiap negara akan mengalami dan merasakan adanya dampak dari globalisasi berupa lahirnya isu baru, yakni demokrasi, HAM dan perspektif ancaman baru yang muncul, tanpa terkecuali Indonesia.

Sebagai sebuah negara yang memiliki posisi strategis dari sisi geografis, geopolitis dan geo ekonomi, Indonesia menjadi incaran dari berbagai negara yang mempunyai kepentingan terhadap sumber kekayaan alam yang melimpah, khususnya semenjak era reformasi. Berbagai kelemahan yang dialami bangsa Indonesia semenjak era reformasi telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengeksploitasi dan menguasai Indonesia. Persoalan politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan yang marak setelah krisis ekonomi sangat mengancam eksistensi keutuhan bangsa Indonesia.

Menghadapi persoalan bangsa dan di saat bangsa Indonesia sedang carut marut menghadapi ancaman yang timbul di dalam negeri dan yang datang dari luar negeri seperti saat ini, dibutuhkan seorang pemimpin yang berani mengambil keputusan, visioner, bersikap kritis, dan bertindak cepat dalam kerangka mengatasi setiap persoalan yang semakin komplek dan beragam, apalagi menyangkut permasalahan ancaman terhadap bangsa dan negara.

Menghadapi ancaman dan persoalan yang dihadapi bangsa dan negara, TNI dituntut untuk mengembangkan kepemimpinan yang handal, kredibel dan responsif terhadap tantangan tugas yang semakin berat. Kepemimpinan TNI yang dibutuhkan adalah kemimpinan yang mampu menghadapi tantangan tugas di era globalisasi dimana ancaman terhadap bangsa dan negara semakin komplek meliputi ancaman militer maupun non militer.  

Permasalahannya adalah kepemimpinan TNI di era globalisasi saat ini belum optimal, sehingga diperlukan langkah-langkah optimalisasi kepemimpinan TNI guna menghadapi tantangan tugas masa depan dalam rangka menegakkan kedaulatan negara serta mempertahankan keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia, dengan demikian perlu dikembangkan model kepemimpinan yang fleksibel dan adaptabel terhadap perubahan jaman.

Penulisan ini dibatasi pada tinjauan teori kepemimpinan TNI (meliputi kepemimpinan militeristis, demokratis, kharismatis, liberal, dan kolaboratif) dihadapkan pada kepemimpinan TNI menghadapi tantangan tugas masa depan (seperti permasalahan arus globalisasi, aksi terorisme, gerakan separatisme, konflik SARA, dan isu HAM).

TNI sebagai institusi sekaligus salah satu dari komponen bangsa di dalam melaksanakan tugas sebagai alat pertahanan negara diperlukan figur pemimpin yang mampu secara kualitas untuk mengelola organisasinya yang memiliki kemampuan dan batas kemampuan sehingga untuk dapat mempengaruhi unsur-unsur yang dipimpinnya paling tidak mempunyai watak yang murni dengan sifat utama penuh kebaktian, setia, taat kepada kewajiban, punya harga diri, kokoh pendiriannya, memiliki antusiasme, bijaksana dan mampu melihat jauh ke depan (Mabes TNI Aktualisasi Nilai-nilai kejuangan Bangsa dalam menyukseskan pembangunan Nasional jangka panjang kedua. September 1995, hal.28).

Teori ini relevan dengan wujud pemimpin TNI yang seusai dengan profesionalisme dalam melaksanakan fungsi, tugas dan perannya. Menurut Sun Tzu, lima kelemahan yang dapat menimpa seorang Panglima yaitu: Berani tanpa perhitungan, ia dapat terbunuh; jika ia pengecut maka ia dapat ditawan; bila cepat naik pitam, ia mudah dihasut; bila ia gila hormat, ia mudah dapat dihina; dan jika ia iba terhadap rakyat, ia mudah diusik.(Sun Tzu, Peran dan Manajemen, Bambang Waluyo Hidayat, PT.Elex Komputindo, Jakarta, hal 20). Dari pernyataan ini terlihat bahwa kepemimpinan TNI dan pemimpin TNI harus tetap pada profesionalisme, memiliki sifat patriot, rasa nasionalisme dan kerakyatan.

Syarat-syarat seorang pemimpin khususnya di dalam organisasi TNI harus meliputi fisik, mental, akademis yang prima, pengalaman, jabatan, pengalaman penugasan. Mental yang meliputi iman dan takwa, sikap  dan perilaku, etika dan tata krama, loyalitas, berani, tunduk kepada sumpah dan emosional intelegensi (Susilo Bambang Yudhoyono, Ceramah di hadapan Pasis Sesko TNI Susreg XXIX tanggal 24 Juni 2002).

Hal ini merupakan suatu prasyarat untuk wujud pemimpin TNI di masa depan sangat relevan bila dihadapkan dengan tantangan tugas. Kepemimpinan merupakan suatu seni atau kecakapan seseorang dalam mempengaruhi, menggerakkan seseorang atau kelompok untuk mengikuti keinginannya, sehingga orang/kelompok tersebut yang dipimpin timbul keinginan/kemauan, kepercayaan, hormat, taat kepada yang memerintah. Gambaran model kepemimpinan yang berkembang di masyarakat diuraikan secara teoritis dihadapkan pada nilai, norma dan jati diri TNI.

Kepemimpinan Militeristis.  

Tinjauan dari kepemimpinan militeristis adalah suatu kepemimpinan bergaya militer. Komando/perintah esperit de corps dalam melaksanakan tugasnya, sangat kompak dan disiplin tinggi dengan kepatuhan total. Militer sangat mengutamakan prinsip, efesiensi dan efektifitas guna mencapai tujuan tertentu. Adapun sifat-sifat kepemimpinan militeristis sebagai berikut :

1. Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando terhadap bawahannya, keras, otoriter, kaku dan kadang-kadang kurang bijaksana dan selalu berorientasi pada pencapaian tugas pokok,
2. Menghendaki kepatuhan mutlak dan disiplin tinggi dari bawahannya,
3. Sangat menyenangi formalitas,
4. Menerima saran usul, sugesti dan kritikan-kritikan dari bawahannya dan,
5. Kemampuan teknis, administratif dan managerial lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan orang sipil (Kartini Kortono, DR, Pemimpin dan Kepemimpinan, hal 72)

Kepemimpinan Demokratis

Tinjauan dari kepemimpinan demokratis adalah suatu kepemimpinan yang berorientasi kepada manusia dan memberikan bimbingan yang  efesien  kepada  para  pengikutnya, keputusannya merupakan keputusan kelompok. Tanggung jawab internal terletak di masing-masing bidang tugas serta kerja sama yang baik. Kekuatan kepemimpinan demokratis terletak pada partisipasi aktif dari setiap anggota kelompok, menghargai pendapat serta potensi setiap individu dan mendengar nasehat bawahan. Kepemimpinan demokratis dengan indikasi sebagai berikut :

1. Organisasi dengan segenap bagian-bagiannya berjalan lancar, bekerja atas dasar tanggung jawab dibidang tugasnya, tidak perduli apakah pimpinan ada atau tidak,
2. Otoritas sepenuhnya didelegasikan kebawah, masing-masing menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya,
3. Diutamakan pada kesejahteraan, dan kelancaran kerja sama dari setiap individu sampai dengan kelompoknya,
4. Pemimpin berfungsi untuk mempercepat dinamisasi kerja sama untuk mencapai tujuan organisasi dan,
5. Seluruh anggota terlibat aktif dalam menentukan sikap, perubahan rencana, pembuatan kuputusan dengan penerapan disiplin kerja.

Kepemimpinan Kharismatis

Tinjauan dari kepemimpinan kharismatis adalah pimpinan pada tipe kepemimpinan ini memiliki suatu kekuatan energi, daya tarik dan perbawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain. Pimpinan dianggap mempunyai kekuatan gaib yang diperolehnya dari yang maha kuasa. Pimpinan banyak memiliki inspirasi, keberanian dan keyakinan teguh pada pendiriannya. Kepribadian pemimpin memancarkan pengaruh, daya tarik yang amat besar, sifat-sifatnya sebagai berikut :

1. Pimpinan mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar dengan pengawal yang dapat dipercaya,
2. Pengikutnya sering tidak dapat menjelaskan mengapa menjadi pengikut,
3. Belum diketahui sebab-sebab seseorang memiliki kharisma yang sangat besar,
4. Pemimpin kharismatis dianggap mempunyai kekuatan supranatural dan,
5. Totalitas kepribadian pemimpin memancarkan pengaruh dan daya tarik yang sangat besar.

Kepemimpinan Liberal

Tinjauan dari kepemimpinan liberal adalah bahwa pola kepemimpinan liberal memberikan kebebasan mutlak kepada para bawahannya untuk bertindak dalam mencapai tujuan bersama.

Pemimpin hanya akan memberikan nasehat apabila diminta oleh bawahan. Inisiatif diserahkan sepenuhnya kepada bawahan, garis-garis umumnya saja yang dijelaskan pada tingkat awal tugas.

Apabila kepemimpinnan otoriter menitik beratkan inisiatif dan kemampuan pada diri pemimpin dan kepemimpinan demokratis menitik beratkan inisiatif dan kemampuan pada kelompok dan keseluruhannya, maka pada kepemimpinan liberal inisiatif dan kemampuan ada pada masing-masing individu. Kebebasan individu menjadi pangkal tolok yang utama. Ciri-ciri perilaku/gaya kepemimpinan liberal serta reaksi bawahannya dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahannya,
2. Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan,
3. Pemimpin berkomunikasi bila diperlukan bawahan,
4. Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan dan,
5. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh orang perorang.

Kepemimpinan Kolaboratif

Tinjauan dari kepemimpinan kolaboratif adalah keyakinan bahwa tiada seorangpun memiliki solusi-solusi terhadap persoalan serba muka yang dihadapi oleh organisasi atau masyarakat. Kepemimpinan membutuhkan seperangkat prinsip untuk memberdayakan semua anggota organisasi untuk bertindak dan menerapkan proses-proses yang memungkinkan kebijakan kolektif muncul kepermukaan.

Prinsip-prinsip itu harus didasarkan pada suatu pemahaman bahwa setiap orang memiliki pengetahuan, keahlian dan kreativitas untuk menyelesaikan problematika yang dihadapi. Prinsip-prinsip itu juga mendorong setiap pengembangan organisasi yang mendukung tindakan-tindakan kolektif berdasarkan visi bersama, kepemilikan kolektif dan nilai-nilai bersama.

Kepemimpinan kolaboratif menyadari bahwa situasi kompleks dan kondisi dinamik harus dikelola secara sistemik. Kepemimpinan menitikberatkan pada partisipasi interaktif, komunikasi terbuka, belajar berkelanjutan dan perhatian pada hubungan-hubungan atau relasi.

Tipe Kepemimpinan Militeristis

Dalam tinjauan kepemimpinan militeristis dapat dianalisa sebagai berikut:

1. Karakter kepemimpinan militeristis adalah lebih bersifat tertutup, terkesan kaku, karena terpaku dengan herarki serta terlalu responsif dalam menghadapi dan mengantisipasi perubahan situasi, lebih bersifat sentralistik terhadap figur pemimpinnya, karena kepatuhan terhadap struktur organisasi komando, yang kesemuanya adalah kontra produktif dengan tuntutan arus globalisasi.
2. Dihadapkan dengan era globalisasi kepemimpinan militeristis kurang cocok diterapkan, karena dalam hal ini arus globalisasi menuntut adanya keterbukaan, kebebasan individu maupun kelompok terhadap kebebasan hidup, mengeluarkan pendapat, mendapat pekerjaan, memeluk agama dan kebebasan lainnya.

Tipe Kepemimpinan Demokratis

Dalam tinjauan kepemimpinan Demokratis dapat dianalisa sebagai berikut:

1. Kepemimpinan Demokratis memiliki karakter terbuka, fleksibel, adaptabel dan responsif dalam menghadapi sikap perubahan yang sangat cepat.
Kepemimpinan Demokratis juga menampilkan figur pemimpin yang memiliki prinsip tegas dalam prinsip dan luwes dalam bertindak. Disamping itu Kepemimpinan Demokratis mempunyai sifat yang efektif untuk menyatukan tujuan organisasi dalam rangka mencapai tugas pokok. Keseimbangan antara pemimpin dan bawahan akan memperkecil jurang pemisah dan ketimpangan organisasi dalam mensinergikan kerjasama.
2. Mencermati karakter kepemimpinan tersebut di atas, maka Kepemimpinan Demokratis sangat cocok untuk menghadapi era globalisasi terutama fenomena yang penuh dengan perubahan, kompetisi dan transparansi. Dalam hal ini pemimpin lebih bersifat membimbing dan menentukan kebijaksanaan serta memberikan pedoman-pedoman yang tidak mengikat. sedangkan bawahan diharapkan secara spontan timbul rasa kesadaran dan tanggung jawab untuk mengembangkan upaya mencapai tujuan.

Tipe Kepemimpinan Kharismatis

Dalam tinjauan kepemimpinan Kharismatis dapat dianalisa sebagai berikut :

1. Kepemimpinan Kharismatis memiliki ciri dan karakter penampilan diri dalam sosok yang hanya mengandalkan karisma.  
Dalam masyarakat yang masih tradisional justru akan kontra produktif dengan arus globalisasi. Figur pemimpin akan menjadi sentral dan panutan bagi yang dipimpinnya karena karisma dan wibawanya.  
Tingkat kepatuhan bukan karena kemampuan dan profesionalismenya tetapi lebih karena pengaruh pribadi dan karisma dari seorang pemimpin,
2. Dihadapkan dengan arus globalisasi Kepemimpinan Kharismatis tidak cocok dalam penerapan nilai-nilainya, karena dalam arus globalisasi tidak bisa hanya mengandalkan figur karisma saja namun diperlukan sosok pemimpin yang mampu menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat sesuai dengan tuntutan situasi, memiliki visi dan wawasan yang luas serta memiliki kompetensi terhadap tugasnya sesuai dengan tuntutan globalisasi terutama yang terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tipe Kepemimpinan Liberal

Dalam tinjauan kepemimpinan Liberal dapat dianalisa sebagai berikut:

1. Kepemimpinan Liberal memiliki karakter dan ciri penampilan diri dalam sosok yang bebas, terbuka dan pro terhadap perubahan serta menekankan pada individualisme. Pola Kepemimpinan Liberal memberikan kebebasan mutlak kepada para bawahannya dalam setiap tindakan guna mencapai tujuan. Dalam hal ini pemimpin hanya memberikan petunjuk dan arahan secara umum dan bila bawahan meminta, sehingga dalam hal ini bawahan senantiasa dituntut memiliki inisiatif untuk mengembangkan ide dan gagasannya guna menunjang keberhasilan tugas satuan.
2. Dihadapkan dengan globalisasi yang sarat dengan perubahan, kompetisi, transparansi serta penuh dengan euforia kebebasan, maka Kepemimpinan Liberal cocok diimplementasikan di era globalisasi. Dengan Kepemimpinan Liberal, maka segala efek dan dampak yang ditimbulkan oleh pengaruh globalisasi dapat segera diatasi.

Tipe Kepemimpinan Kolaboratif

Dalam tinjauan kepemimpinan Kolaboratif dapat dianalisa sebagai berikut :

1. Kepemimpinan Kolaboratif memiliki karakter bahwa setiap individu dalam organisasi baik pemimpin maupun bawahannya memiliki pengetahuan dan kemampuan menghadapi tantangan tugas. Dalam hal ini semua personel dituntut partisipasi aktif, interaktif, berkomunikasi baik dengan rekan maupun kepada orang lain, sehingga terbangun suatu komunikasi yang sehat dalam kerangka kebersamaan.
2. Dihadapkan dengan era globalisasi yang sarat dengan perubahan dan permasalahan, maka Kepemimpinan Kolaboratif sangat cocok diimplementasikan dan memudahkan untuk mengatasi kompleksitasnya permasalahan yang timbul.  

Dapat disimpulkan sebagai berikut :
a) Tipe kepemimpinan TNI ke depan harus memiliki sifat, karakter dan model kepemimpinan yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis, kondisi, situasi dan permasalahan yang dihadapinya, khususnya terkait dengan tantangan tugas masa depan, yakni permasalahan menghadapi tuntutan dan tantangan arus globalisasi.
b) Tidak ada satupun tipe kepemimpinan TNI yang dapat mengatasi semua hakekat ancaman yang sangat komplek dan muti dimensi, sehingga mengancam keutuhan NKRI. Setiap tipe kepemimpinan TNI memiliki kekuatan dan kelemahan. Oleh karena itu, kombinasi dan modifikasi dari seluruh tipe kemimpinan TNI sudah selayaknya dimiliki oleh setiap pemimpin TNI di masa mendatang.
c) Sedangkan tipe
kemimpinan TNI yang paling cocok untuk mengatasi tantangan tugas TNI di masa depan adalah kombinasi dan modifikasi kepemimpinan militeristis, demokrasi dan kolaboratif. Sehingga Perlu kesadaran dan pemahaman dari berbagai pihak bahwa jabatan dalam pimpinan TNI adalah jabatan karier dan bukan jabatan politis sehingga jangan sampai penempatan jabatan pada pimpinan TNI diintervensi oleh kepentingan politik kelompok tertentu, khususnya DPR dan Partai Politik, serta dipolitisir yang akhirnya merugikan citra dan integritas TNI.

Perlu dukungan kebijakan pembinaan dan anggaran yang dapat meningkatkan profesionalisme kepemimpinan TNI dalam menghadapi tantangan tugas pokok masa depan yang sangat berat. Kebijakan pembinaan dan anggaran yang didukung oleh pemerintah sangat penting bagi upaya peningkatan profesionalisme pemimpin TNI.

Juga diperlukan dukungan aturan perundang-undangan yang dapat menunjang upaya peningkatan profesionalisme kepemimpinan TNI dalam menghadapi tantangan tugas ke depan. Landasan hukum yang dikeluarkan pemerintah dan DPR sangat penting untuk dijadikan dasar dan landasan bagi TNI dalam mengembangkan profesionalisme kepemimpinan TNI di masa mendatang.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Kamis, 23 Februari 2012

Satuan Kodam VI/Mlw

Korem
Kodim
Batalyon
Badan Pelaksana

Pencarian

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini174
mod_vvisit_counterKemarin772
mod_vvisit_counterMinggu ini2655
mod_vvisit_counterBulan ini16757
mod_vvisit_counterTotal257848

IP Address

38.107.179.227

Sedang Online

Saat ini ada 27 tamu online

Operator

Koneksi Info Terbaru